BANGRIER & PROPESI PGRI KABUPATEN KARAWANG

Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2011

Lepas Mengajar ,Saya jadi Tukang Bas

Rosidin ,S.Pd.
KARAWANG.Judul di atas adalah ucapan salah satu guru di kabupaten Karawang yang di temui PELITAKARAWANG tiga hari yang lalu di salah satu tempat,dimana dia bekerja sebagai tukang bas (tukang membuat rumah) atau selepas dia dinas mengajar.

Dia adalah Rosidin S.Pd,seorang  guru asal kecamatan Pedes dan mengabdikan diri di SDN Sungai Buntu Satu

Pekerjaan ngebas saya lakukan setelah jam mengajar di sekolah tuntas,Insya Allah semua yang saya lakukan tidak akan mengganggu tugas,hak dan kewajibaan saya sebagai PNS guru.

Karena,sambung dia,"Pekerjaan yang saya lakukan hanya sifatnya sambilan dan hanya mengisi waktu-waktu kosong diluar kegiatan sekolah misal KKG Bermutu,dan lain-lain yang mengikat kedinasan keguruan".

Apa alasan bapak atau mengapa bisa ngebas?,tanya PELITAKARAWANG.COM.

Sudah menjadi rahasia umum mungkin dan sejujurnya, saya mengejar target dapur yang sifatnya perlu di bantu dari hasil kerja atau gaji selama ini,di sisi lain memang ini status awal saya sebelum jadi PNS, masih ada saja yang suka bertanya masyarakat,Apakah masih luang untuk ngebas?,ya apa boleh buat , selagi ada orang yang masih percaya hasil kerja saya ngebas dan memang sikon, pak,terang Rosidin sambil mengukur bahan akan pekerjaaanya. Sumber: www.pelitakarawang.com

Workshop Pendataan Program BOS 2011



KARAWANG.BOS (Bantuan Operasional Sekolah) adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar. Program wajib belajar sendiri merupakan amanah dari UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 34 ayat 2 dari UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sementara pada ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Sasaran Program dan Besar Bantuan

Sasaran program BOS adalah semua sekolah SD dan SMP, termasuk SMP (SMPT) dan Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM) yang diselenggarakan oleh masyarakat, baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi di Indonesia. Program Kejar Paket A dan Paket B tidak termasuk sasaran dari program BOS ini.

Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah termasuk untuk BOS Buku pada tahun anggaran 2011, dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:


   1. SD/SDLB di kota                                                :    Rp 400.000,-/siswa/tahun
   2. SD/SDLB di kabupaten                                        :    Rp 397.000,-/siswa/tahun
   3. SMP/SMPLB/SMPT di kota                                   :    Rp 575.000,-/siswa/tahun
   4. SMP/SMPLB/SMPT di kabupaten                          :    Rp 570.000,-/siswa/tahun

Pelaporan Penggunaan BOS
Melihat besarnya anggaran yang dikucurkan pemerintah bagi BOS bagi selayaknya ada suatu sistem pelaporan yang kredibel dan transparan. Untuk masalah ini Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar melakukan inisiatif untuk membuat pelaporan dana BOS melalui teknologi web. Wujud nyatanya adalah pembuatan web mengenai BOS (http://bos.kemdiknas.go.id). Dengan memanfaatkan data center yang ada di Pustekkom maka sejak akhir Agustus 2011 web bos tersebut sudah aktif dan dapat diakses.

Untuk mensosialisasikan web tersebut maka Ditjen Dikdas melakukan workshop pendataan program BOS yang dilakukan di 4 kota : Bandung, Batam, Surabaya, dan Makassar. Workshop di Bandung dan Batam diselenggarakan pada tanggal 7-9 September 2011, sementara untuk Surabaya dan Makassar akan diselenggarakan pada tanggal 13-15 September. Peserta workshop adalah petugas data BOS yang telah ditunjuk dari masing Dinas Pendidikan Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia.

Workshop di Batam dibuka oleh Dirjen Dikdas Prof. Suyanto, PhD yang disertai oleh Direktur Pembinaan SMP Didik Suhardi, SH, M.Si. Peserta workshop di Batam adalah petugas data dari kabupaten/kota di wilayah Sumatera. Workshop di Bandung dibuka oleh Set.  Ditjen Dikdas Dr. Bambang Indriyanto yang disertai oleh Direktur Pembinaan SD Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Peserta workshop di Bandung adalah petugas data dari kabupaten/kota di wilayah Jawa dan Kalimantan.

Harapannya tentu saja adalah dengan pemanfataan TIK yang baik (khususnya internet) pelaporan penggunaan dana BOS dapat lebih transparan dan kredibel, dan jika hal ini terjadi maka citra Kementerian Pendidikan Nasional akan semakin meningkat. Penyelenggaraan pendidikan yang bersih dan bebas dari korupsi merupakan dambaan bagi seluruh insan pendidikan Indonesia. Semoga Kemdiknas dapat menjadi pelopor di dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan amanah.(SUMBER:JARDIKNAS)

Minggu, 19 Juni 2011

RAKOR PGRI KARAWANG

PENGEMBANGAN KARIER&PROFESI-.Pengurus PGRI Kabupaten Karawang melaksanakan Rapat Koordinasi dengan pengurus PGRI Cabang se kab Karawang,yang dilaksanakan pada Hari Jumat tanggal 10 Juni 2011 bertempat di Wisma Guru,dipimpin langsung Ketua PGRI Kabupaten H. Obang Norbayu,  SH,serta di hadiri penguus Kab lainnya,hanya Sdr Nandang Mulyana selaku wkl Ketua I,paska Pemilihan PAW, tidak pernah hadir utuk rapat yg ke 3 kalinya.
Agenda Rapat Koordinasi ini sebagai berikut:

1. Tekhnik Pembuatan Kartu PGRI Online,melalui Internet
2. Pembentukan Kepengurusan PAUDNI
3. Pembentukan LBH Organisasi PGRI
4. PORSENI Guru Tingkat Provinsi Jabar

1.1.Pada pembahasan agenda tentang cara mengupdate dan meng entri data anggota ke PB PGRI,masih       banyak kendala,diantaranya Sulitnya menggugah Foto , mengupdate exel yg telah di isi daftar anggota untuk di entri ke PGRI Pusat,serta masih simpang siurnya penomoran terutama dalam kode wilayah.

1.2. kami mohon kepada Penngurus kab bidang organisasi dan kaderisasi agar segera mencari solusi,dlm hal tersebut di atas, karena kami beberapa cabang sudah selesai mengisi data/meregistrasi setiap anggota,jgn sampai pekejaan yg sudah di lakukan cabang menjadi sia-sia,apalagi dengan banyak pengorbanan.

2.1. Sudah terbentuk denngan ketua Sdri SUMARNI,dengan beberapa kepengurusan lainnya,dan akan di lantik nanti awal juli pada acara Rapat Kerja PGRI Jawa Barat di Bandung.

3.1. Sedikit ada kendala terutama untuk merekrut orang yg mempunyai keahlian di bidang hukum,dan telah memiliki setifikat sebagai advokasi serta lisensi lainnya.

4.1. PORSENI Guru dengan Cabor Bola Voli,Bulu Tangkis,Tenis Meja,Catur Untuk Putra Putri,dilaksanakan Bln September 2011 di Bandung.

Mudah mudahan apa yang diharapkan Organisasi secara keseluruhan bisa terealisasi,tentu ini semua perlu Komitmen dn konsistensi kita bersama,serta dukungan dari berbagai pihak juga tentang Pembiayaan di harapkan tidak ada masalah./A.Yus

Sabtu, 18 Juni 2011

Perilaku Tawuran di Kalangan Remaja

 Oleh: Dra. Hj. Yani Maryani
Aksi tawuran, kekerasan dan bentrokan  pelajar atau mahasiswa kerap ditayangkan di layar televisi.  Fenomena  apa sebenarnya yang terjadi di kalangan generasi kita?
PENGEMBANGAN& PRO-.Seringkali unjuk kekuatan dilakukan oleh elemen masyarakat pasca reformasi ditandai mobilisasi massa dalam keperluan mendukung atau menolak calon tertentu, demontrasi atau perbuatan anarkis. Seolah menjadi pelengkap, tawuran di kalangan pelajar menjadi fenomena harus disikapi kritis.
Bila ditelaah secara seksama, tawuran pelajar merupakan salah satu bentuk perilaku penyimpangan sosial-kolektif remaja.  Tawuran berbuah dendam berlarut-larut ditandai saling curiga mencurigai dan ancam-mengancam.  Ironisnya, rekan mereka tak tahu duduk persoalannya sering menanggung “buah kerja” rekannya.   Akibatnya, teror dan ketakutan menghantui seluruh warga sekolah.
Tawuran pelajar telah menjadi sebuah fenomena sosio-kultural dalam kehidupan.  Solusi pemecahannya bukan hanya melibatkan guru konselor dan orang tua, tapi harus diselesaikan secara holistik dan langsung menyentuh kepada akar persoalan yang paling mendasar. Kita ketahui bahwa masa remaja adalah mencari identifikasi diri.  Masa penuh keegoan dan pencarian karakter. Suatu masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.  Mereka merasa bukan kanak – kanak lagi, tetapi mereka belum mampu mengemban tugas sebagai orang dewasa. Karena itu, situasi ini membawa remaja cenderung labil serta tidak mampu menyesuaikan diri secara sempurna terhadap lingkungannya.
Di lain pihak, ego itu pula direfleksikan melalui aktivitas berkelompok, seperti: geng, atau sekolah sehingga tercipta  semacam ikatan batin antara sesama kelompoknya untuk menjaga harga diri kelompoknya.  Pada fase ini, remaja termasuk kelompok yang rentan melakukan berbagai perilaku negatif secara kolektif. Kepatuhan akan  norma kelompok sangat kuat dan  seringkali mendobrak tatanan sistem nilai yang terbangun baik di masyarakat.
Faktor penyebab tawuran
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pediatrics Investigators Dimitri A. Christakis, MD, MPH dan Frederick Zimmerman, PhD, pada rumah sakit Seattle Children’s Hospital Research Institute dan University of Washington School of Medicine menyimpulkan bahwa perilaku agresi yang dilakukan anak usia remaja sangat berhubungan dengan kebiasaannya dalam menonton tayangan televisi.   
Faktor lain bertanggung jawab  adalah tidak optimalnya para pendidik memberikan pola pendidikan kepada para anak didiknya. Ini berkaitan erat dengan profil guru yang masih bergelut dengan pemenuhan kebutuhan keluarganya sehingga curahan perhatian terhadap siswa lebih dipengaruhi subyektifitas kondisi psikologis dan emosi di rumah seperti: rasa penat, tekanan, atau pemarah.  Akibatnya mudah tersinggung, mudah memvonis atau memberi sanksi.  Hal itu dapat menanamkan kesan negatif di mana sekolah tidak ubahnya menjadi belenggu yang menindas ekspresi mereka.
Kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada  pelajar.  Seringkali kebijakan yang dibuat hanya berdasarkan kebutuhan penguasa tanpa melihat dan melakukan survei apa kebutuhan pelajar. Pelajar hanya sebagai objek pendidikan sehingga eksistensi mereka tidak diakui,  dan pendidikan tidak membebaskan peserta didik dari belenggu tetapi pendidikkan malahan menjadi tirani bagi mereka.
Pendidikan nilai di sekolah
Fenomena maraknya tawuran pelajar tentunya sangat memprihatinkan kita.  Apabila permasalahan ini tidak tertanggulangi dengan baik maka dapat dipastikan akan membawa dampak buruk bagi masa depan bangsa nantinya.  Upaya antisipatif terhadap tawuran pelajar mutlak dilakukan.
Menurut Malik (2002), salah satu faktor yang melatarbelakangi terjadinya tawuran pelajar adalah krisis moral yang tengah melanda remaja. Padahal moral adalah modal yang paling penting sebagai tameng bagi seseorang untuk menjalani kehidupannya. Sehingga, pencegahan tawuran dapat dilakukan secara efektif dengan memberikan pendidikan moral kepada pelajar melalui reposisi pendidikan nilai di sekolah. 
Berkaitan dengan moral inilah pembelajaran budi pekerti harus kembali dihidupkan. Sekolah yang diharapkan mampu memanusiakan manusia secara hakiki, bukan menghasilkan “manusa robot” yang mengabdi pada pasar kapitalis dengan mengorbankan keutuhan. Zaim ElMubarok (PR, 2/5) memaparkan ketidakseimbangan itu dipicu akibat kesenjangan antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif).  Lembaga pendidikan  sekadar mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil material atau komponen lulusan  yang dituntut pasar.
Ketimpangan itu berdasarkan fakta,  di mana perhatian dunia pendidikan lebih terpusat pada hasil angka, yakni nilai ulangan, raport, ujian akhir, dsb. Sementara   mata pelajaran yang diharapkan memberikan pendidikan nilai (afektif) seperti pendidikan agama atau pendidikan pancasila lebih banyak diberikan  secara  teori (kognitif).  Orientasi prestasi akademik seringkali mengabaikan penanaman karakter siswa, di mana hasil yang dicapai lebih didasarkan pada pencapaian angka diperoleh. Kejujuran, ketekunan, tanggung jawab, kepercayaan, adalah karakter yang hampir diabaikan dalam kenaikan atau kelulusan seorang siswa.   
Mata ajar yang menyangkut sikap hidup dan kepribadian sudah seharusnya  tidak boleh lagi menjadi beban yang memberatkan kognisi siswa, melainkan harus menjadi gaya hidup (life-style) dan etos kerja.   Pendidikan nilai seyogianya tidak harus dipikul oleh sebuah mata ajar  tertentu. Namun tiap guru melalui mata pelajaran yang diampu, secara eksplisit  menjelaskan nilai-nilai yang ada dalam mata ajarnya.  Seorang guru harus mengajarkan tiga ranah secara integral, yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotor.  Atau dalam bahasa agama sering disebut integrasi ilmu, iman, dan amal. 
Dengan demikian, setiap guru berkewajiban melaksanakan pendidikan nilai tanpa terkecuali. Pendidikan nilai bisa dilaksanakan melalui pelajaran apa saja, bahasa Indonesia, pendidikan jasmani, fisika, komputer, dsb. Contoh sederhana, bila guru olahraga menggenjot sebatas prestasi olahraga anak dan mengabaikan pendidikan afektif, maka mungkin menghasilkan atlet sukses, namun juga mencetak pribadi angkuh dalam setiap kemenangan, melecehkan lawannya yang kalah serta mengabaikan azas sportivitas, seperti: melegalkan doping atau kecurangan, dan mencederai lawan.  Bila guru ekonomi hanya menitikberatkan  aspek kognitif saja, niscaya bakal lahir kaum borjuis yang siap menghisap rakyat kecil dan pola pikirnya dicekoki keuntungan dan keuntungan tanpa memiliki kepekaan sosial dan kepedulian sesamanya.
 Satu hal penting bagi guru,  perlunya tampil sebagai teladan untuk digugu dan ditiru siswa. Guru bertugas bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang dipundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME dan  berakhlak mulia.  Dengan demikian, pendidikan  nilai bukan hanya dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia sebagai negara Pancasila dapat kembali menumbuhkan  nilai-nilai luhur yang menjadi ciri kepribadian bangsa kita seperti: ramah-tamah, kesopanan, gotong royong,  tepa selira,  dan lain-lain. Nilai-nilai ini akan membentengi perilaku negatif siswa sehingga pendidikan bukan hanya menyediakan manusia berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa, peka, jujur, santun, dan terpercaya. /Penulis, Guru di MTs Negeri Subang.SUMBER